Sabtu, 14 April 2012

UAN DAN HARGA DIRI SISWA



Besok bakal digelar Ujian Akhir Nasional serentak di seluruh Indonesia. Siswa, terutama dari sekolah yang tidak diunggulkan, biasanya mengalami kegalauan yang luar biasa. Hal ini saya perhatikan dari pengalaman mengisi pelatihan Motivasi Sukses UAN di beberapa sekolah di Jawa Timur. Banyak siswa yang merasa cemas dan takut tidak lulus UAN. Apalagi pelajar yang tidak lulus try out UAN, mereka pesimis bisa lulus UAN.

Kadang hal ini diperparah oleh pernyataan guru yang mengandung kata-kata negatif kepada siswa:


“Anak-anak, jangan sampai kalian TIDAK lulus UAN. Nanti akan berpengaruh kepada sekolah. Dinas Pendidikan juga akan menyurati sekolah.”

“Tolong dengarkan saya. Selama saya mengajar di sekolah ini, nilai kalian PALING JELEK.”
Dsb.

Bayangkan jika kalimatnya bernada positif, misalnya:
“Anak-anak, dalam waktu dekat kalian akan menghadapi UAN. Jika kamu lulus UAN, banyak manfaat yang kamu dapatkan: membahagiakan ortu, bekerja atau kuliah. Saya yakin, kalian PASTI Lulus UAN. Tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa kurang belajar. Siswa paling tinggi nilainya bukanlah siswa paling pintar, tetapi siswa yang paling banyak belajarnya. Belajar sungguh-sungguh, lakukan yang terbaik dan yakinlah KAMU BISA.”

Dengan begitu siswa menjadi optimis dan percaya diri. Mereka tidak membayangkan bagaimana kalau gagal. Tetapi mereka bisa membayangkan sekaligus merasakan manfaat yang akan didapatkan kalau lulus UAN. Membahagiakan orang tua, bekerja atau kuliah. Selain itu juga perasaan bahagia, senang dan bangga. 

So, kata-kata guru kepada siswa harus bernada OPTIMIS dan MENYEMANGATI. Bukan MENAKUT-NAKUTI.

FENOMENA PASCA PENGUMUMAN UAN

Setiap kali hasil UAN diumumkan, selalu muncul berita di televisi mengenai siswa yang menangis meraung-raung dan pingsan akibat dinyatakan tidak lulus UAN. Ini adalah suatu ironi. 

TIDAK LULUS UAN identik dengan BODOH dan tidak punya MASA DEPAN. Hidup mereka GAGAL. Mereka pasti malu kepada teman dan tetangga mereka. Bayangkan ketika mereka pulang ke rumah, mereka melihat teman-temannya bersorak bahkan pawai di jalanan sebagai luapan rasa senang lulus UAN. sementara mereka harus menanggung malu karena TIDAK LULUS UAN. Mereka semakin terpuruk. Hatinya hancur berkeping-keping.

UAN ADALAH PENGHANCUR HARGA DIRI

Pengalaman TIDAK LULUS UAN tidak akan bisa dilupakan seumur hidup. Keberhasilan belajar siswa di sekolah selama tiga tahun hanya ditentukan oleh ujian yang digelar tiga hari.

Padahal kita tahu sendiri kondisi sekolah dan tingkat pendidikan guru setiap daerah tidak sama. Bayangkan mereka yang bersekolah di daerah terpencil, dimana sekolah mereka mau roboh, sarana belajar tidak memadai serta guru yang jarang hadir di kelas. Boro-boro ikut bimbel, bayar SPP sekolah nunggak. Sementara di daerah kota sebaliknya. Fasilitas lengkap, tingkat pendidikan tinggi. Buat mereka yang mampu, mereka bisa mengikuti bimbel dengan program intensif lulus UAN.

Ini tentu tidak adil.

UAN MENGGODA PENDIDIK BERBUAT CURANG

Citra sekolah salah satunya ditentukan oleh UAN. Semakin banyak siswa lulus UAN, maka semakin baik citranya di mata masyarakat. Hal ini menarik minat orang untuk mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Namun jika ada atau banyak siswa di sekolah tersebut yang tidak lulus UAN, citra sekolah menjadi buruk. 

Bagi sekolah favorit, mungkin mereka PEDE seluruh siswanya bakal lulus UAN 100%. Bagi sekolah pinggiran, mereka akan mencari cara bagaimana supaya siswanya lulus UAN agar citranya bagus. 

Itulah kenapa muncul kasus-kasus seperti kebocoran soal, sms kunci jawaban massal, kong kali kong pengawas dengan murid dan sontek massal setiap kali UAN digelar.

Tentu ini contoh yang sangat buruk. Siswa dituntut untuk mendapatkan NILAI BAGUS ketimbang MORAL BAGUS.

SOLUSI: SEMUA SISWA LULUS UAN

Meskipun demikian, saya bukan orang yang PRO UAN dihapuskan. Saya tetap PRO UAN digelar. Tapi dengan catatan tidak ada siswa yang tidak lulus UAN. Semuanya harus lulus UAN meskipun ada siswa yang nilainya jelek. Salah sendiri malas belajar. Hehe.

Jika mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mereka harus mengikuti ujian (semacam SNMPTN) yang digelar oleh perguruan tinggi. Jika mereka melamar kerja, mereka harus LOLOS seleksi yang digelar perusahaan. Sehingga mereka bisa kuliah maupun bekerja bukan ditentukan hasil UAN, melainkan ujian yang digelar kampus atau seleksi perusahaan.

Ini adalah pendapat pribadi saya mengenai UAN. Saya yakin Anda punya ide dan solusi bagus lainnya mengenai UAN dan HARGA DIRI SISWA.=) 

Buat adik-adik yang mau mengikuti UAN besok, SELAMAT BERJUANG ! Do the best and Let God do the rest. Good Luck…=)

Sumber gambar : www.hatidamai7.wordpress.com, www.jpnn.com, www.siswoko.web.id, www.portalsemarang.com, www.zita-ended.blogspot.com 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;